Sipayung Hoga © 9-2001

Prakata
Ada sisi baik dan ada sisi buruk, demikianlah yang terjadi saat ini ketika belakangan adanya perbedaan pendapat maupun persepsi mengenai struktur garis keturunan ( dalam bahasa Toba disebut TAROMBO ) berdasarkan marga-marga dalam suku Toba. Semakin rumit persoalannya jika mereka yang berbeda pendapat sama-sama bersikukuh dan tidak mau mencari jalan tengah mencari solusinya.

Memanglah sangat disayangkan karena sampai saat ini belum ada manuscrift yang mampu mengarahkan bias-bias/mismatch legenda yang umumya berlaku di kalangan suku Toba secara khusus, maupun Batak secara umum. Seorang arkelogo Belanda, Bickmore, sendiri mengungkapkan kalau keberadaan suku Batak tidak jelas. Meski memang harus diakui, peradaban sangat dominant mempengaruhi proses demi proses alamiah perubahan (evolusi) kultur dan kebiasaan manusia sepanjang jaman.

Dari catatan perjalanan Marco Polo dan Bickmore terungkap bahwa peradaban suku Batak adalah golongan barbar atau kanibalisme. bahwa keberadaan marga Silalahi sebagai bagian keturunan Raja Silahi Sabungan terlahir dengan 2 kondisi. Bick more menguraikan rincian lebih khusus, yaitu : Kulit Coklat kehitaman, rambut keriting, tinggi 5 Feet ( ± 150 cm ). Sepintas kita pasti teringat akan gambaran sosok aborigin / negroid yang memang umumnya mendiami negeri asia-pasifik.

Hal lain adalah keberadan orang-orang suku Batak yang hampir bisa dipastikan semakin terdesak ke pedalaman (pengunungan) dan tercerai berai karena derasnya arus migrasi ke Sumatera. Saya menduga pada dekade inilah terjadi pengelompokan suku Batak menjadi 2 kelompok besar, yaitu golongan yang terbuka dan berbaur dengan peradaban baru bersama dengan para imigran dan kelompok suku Batak yang tertutup yang memilih berdiam di gunung-gunung dengan pola kehidupan barbar/kanibal dan orisinal.

Hal ini terliahat dengan keberadaan etnis suku Simalungun , Karo, Mandailing yang dominan lebih dahulu berperadaban maju. Hal ini dapat dilihat dari struktur sosial yang ada. Kerajaaan-kerajaan di tanah Simalungun dan karo telah mengadop system monarkhi modern, sebagai mana kerajaan Hindu-Budha terdahulu pernah ada di Sumatera., seperti halnya Sriwijaya atau Majapahit. Batu tertulis yang ditemui di Padang Lawas , Pamatang Bandar Simalungun merupakan salah satu bukti adanya peradaban Hindu / Budha disana.

Fase kedua ialah masuknya era Islam ke Nusantara. Sebagai akibatnya , Raja-raja dan penguasa Simalungun, Karo dan Mandailing telah memeluk Islam, terlebih lagi setelah kerajaan Samudera Pasai menaklukkan negeri Simalungun, Karo dan Mandailing sebagai kerajaan satelit / taklukannya.

Fenomena diata sangat jelas membedakan jika dibandingkan dengan peradaban etnis suku Toba yang mendiami pengunangan (Bukit Barisan) di daerah Toba Holbung. Beberapa contoh analisa dibawah ini :

1) RAJA.
Di Tanah Karo , Simalungun, Madailing, pengertian RAJA secara umum modern adalah penguasa atau pemimpin yang berkuasa atas rakyat dan bumi. Yang memiliki tahta dan diwariskan secara tutun temurun kepada keturunannya. Fenomena struktur , kesenjangan antara golongan RAJA dan HAMBA (feodalisme) sangat tercermin dan berdampak dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Berbeda halnya dengan suku Toba. Raja adalah pemimpin keluarga dan kelompok keturunannya. Tidak ada struktur Tuan dan Hamba dan tidak ada makna monarkhi feodalisme.

2) NAMA DAN MARGA.
Pada suku Karo, Simalungun, Karo, umumnya marga tidak dimulai dengan lafal Si. Artinya sebutan nama dan marga adalah sakral mengingat status mereka masing-masing awalnya memiliki status sosial yang terhormat sebagai Raja di negeri masing-masing.
Berbeda pada suku Toba yang memberikan nama sesuai perangai , sifat fisik atau kebiasaan sang individu. Sebut saja : Si (m)Bolon , Si Tambun, Si Bagot , Si Ahaan , Si Ho(a)mbing, Si Raja Batak , Si Raja Lontung, dan lain-lain..

Banyak lagi fenomena-fenomena yang sebetulnya tidak terjadi begitu saja. Jika dianalisa maka semua akan dapat diurai dan dapat kita pahami keberadaannya. Bukan berarti kita menelaah sisi negatifnya , namun kita melihat segi positifnya untuk kita jadikan sebagai dasar perbaikan dan perbaikan lagi. Artinya, kita mengambil sikap terbuka dan tidak responsif berlebihan. Kita tidak perlu menjadi tertutup dan menghakimi perbedaan pendapat. Baiklah kita saling memagari dengan menghormati pengertian orang lain.

Hal ini sangat penting terlebih buat para keterununan Raja Silahi Sabungan generasi milenium sekarang ini. Mungkin dalam banyak hal kita telah banyak mendengar desas-desus , perndapat serta analisa mengenai tearombo Raja Silahi Sabungan , khususnya. Terlebih sekarang, peran media, termasuk dunia maya (internet), yang menyajikan berbagai informasi. Bahkan banyak informasi yang seolah-lah berseberangan sehingga dapat membingungkan / menyesatkan. Sebagiknya kita punya sikap dan pengertian yang jernih. Tidak senua informasi yang tersedia dapat membangun. Banyak informasi ( dimedia Internet ) yang justru provokatif dan tidak membangun. Ada tuuan dan maksud-maksud tertentu dari oknum yang kurang bertanggungjawab berusaha (sengaja) membuat propaganda yang tidak rasional mengada-ada.

Sebagaimana dikatakan :
„ kesombongan akan mendatangkan kehancuran sedangkan jiwa besar akan mendatangkan nama baik dan penghormatan .”

RAJA SILAHI SABUNGAN DI SILALAHI NABOLAK

Dalam rangka pembangunan Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, maka diadakan Musyawarah besar yang mengundang seluruh tokoh-tokoh yang mewakili 8 keturunan Raja Silahi Sabungan di seluruh Indonesia. Dalam MUBES Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak 1968, kelompok marga Silalahi dari Pematang Siantar yang mengatasnamakan utusan dari Tolping dan Pangururan menolak Tarombo Raja Silahi Sabungan dengan 2 Istri dan 8 Anak. Kelompok Silalahi Tolping dan Pangururan ini bersikukuh bahwa istri Raja Silahi Sabungan adalah 3 dan mereka marga Silalahi Tolping/Pangururan adalah keturunan anak sulung ( buha baju ) , yaitu Silahi Raja, dari istri Raja Silahi Sabungan dari Boru Simbolon.

Karena penolakan dan argumentasi kelompok dianggap ngawur, kelompok utusan Silalahi Tolping/Pangururan kemudian melakukan aksi walk-out dari MUBES Silalahi Nabolak. Kelompok ini meyatakan tidak menyetujui kesepakan MUBES di Silalahi Nabolak. Alhasil, sampai sekarang mereka kemudian eksis menamai marga mereka Silalahi Raja atau Silalahi Tolping/Pangururan dan sampai saat ini tetap menolak eksistensi tarombo Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak. Meski demikian, secara defacto keturunan Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak tetap menganggap kelompok Silalahi Raja/Silalahi Pangururan/Silalahi Tolping adalah keturunan Raja Silahi Sabungan namun bukan anak sulung , melainkan keturunan Sihalaho dan Ompu Lahisabungan alias Bursok Raja bin Debang Raja.

MUBES di Silalahi Nabolak berlanjut dengan tetap mengacu pada Tarombo Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak bahwa Raja Silahi Sabungan hanya memiliki 2 (dua) Istri dan 8 (delapan) Keturunanannya. Fakta ini didukung dengan fakta keberadaan 8 (delapan) wilayah BIUS / ULAYAT yang diwariskan Raja Silahi Sabungan kepada keturunannya. Selain itu, sesuai dengan PODA SAGU-SAGU MARLANGAN yang mendukung keberadaan 8 (delapan) anak-anak Raja Silahi Sabungan.

Atas dasar fakta dan realita tersebut diatas , maka Panitia Pembangunan Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak terus bekerja tanpa pamrih dan akhirnya dapat mewujudkan TUGU RAJA SILAHI SABUNGAN di bona pasogit SILALAHi NABOLAK.

(1) Pertama.
Sejak awal , Silalahi Nabolak adalah satu-satunya bius / bona pasogit keturunan Raja Silahi Sabungan dikenal khalayak disekitar Pakpak Dairi, Angkola Mandailing, Samosir , Karo dan Simalungun. Jauh sejak awal, ketika keturunan Raja Silahi Sabungan merantau keluar dari Silalahi Nabolak, mereka sering dipanggil sesuai negeri asalnya yang lebih dikenal familiar, yaitu Silalahi. Alhasil , dalam proses waktu dan administrasi maka pemakaian nama Silalahi berkembang menjadi marga, terutama di negeri perantauan Simalungun, Dairi, Karo dan Samosir. Itu sebabnya, beberapa marga keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak, seperti : Sihaloho, Situngkir, Sidebang, Pintu Batu, dan lainya, diperantauan banyak kemudian menjadikan Silalahi sebagai marga secata administrasi kependudukan. Dan ada semacam konsensus internal antar sesame keturunan Raja Silahi Sabungan , bahwa akhirnya semua keturunan Raja Silahi Sabungan berhak memakai marga Silalahi, sesuai nama tanah asal mereka, yaitu Silalahi Nabolak. Atau umumnya, keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak mengakuisisi bahwa Silalahi sebagai MARGA PARSADAAN keturunana Silahi Sabungan di perantauan , sampai saat ini.

Hal ini kemudian terbukti dengan adanya marga Silalahi keturunan Sihaloho, Situngkir, atau lainnnya. Artinya, masing-masing mengerti dan memahami kejelasan asal-muasal turpuk marga mereka. Hal ini sangat diperlukan dan akan penting ketika terkait hubungan Tutur (pangggilan antar keturunan / kekerabatan) maupun dalam hubungan adat.

Ini bukanlah masalah inkonsistensi dalam hal pemakaian marga. Pemakaian marga Silalahi sama sekali tidak menjadi masalah bagi 8 (delapan) keturunan Raja Silahi Sabungan. Tidak ada alasan untuk membatasi pemakain marga silalahi bagi keturunan Raja Silahi Sabungan. Justru pemakaian marga Silalahi juga mempertegas bahwa seseorang itu adalah salah satu keturunan dari tanah (bius) Silalahi Nabolak.

(2) Kedua.
Pada perkembangan regenerasi , keturunan Sondiraja dari Silalahi Nabolak dibawa kembali ke tanah leluhur Silahi Sabungan, di Balige, Toba Holung. Sibagotni Pohan menitahkan anaknya , Tuan Sihubil, untuk bernegoisasi dengan Raja Silahi Sabungan terkait sesuatu hal yang terjadi di Lumban Gorat Balige. Namun Raja Silahi Sabungan menolak. Tidak ingin pulang ke Balige dengan tangan kosong, Tuan Sihubil kemudian membawa paksa 3 orang (cucu) keturunan Raja Silahi Sabungan ke Balige. Ketika melewati Tano Ponggol Pangururan, 2 orang dari mereka berhasil melarikan diri ke atas bukit, di belantara Pangururan, sedangkan satu orang lainnya berhasil dibawa Tuan Sihubil sampai ke Balige, yaitu Siraja Bunga-bunga. Sesampainya di Balige, Siraja Bunga-bunga kemudian dinobatkan sebagai keluarga Sibagotni Pohan. Siraja Bunga-bunga kemudian digelari Raja Parmahan degan marga SILALAHI. Tentu hal ini terkait dengan asal muasalnya yang berasal dari tanah / negeri Silalahi Nabolak. Kedua keturunan Raja Silahi Sabungan yang berhasil meloloskan diri di Tano Ponggol Pangururan, menjadi cikal bakal keberadaan keturunan dengan marga Silalahi di Pangururan dan Tolping, yaitu keturunan Si Bursok Raja, yang memakai nama Lahi Sabungan dan keturunannya bernama Raja Partada yang memakai marga Silalahi.

SILALAHI DI TOBA HOLBUNG , HINALANG PAGAR BATU ,BALIGE.

Raja Parmahan Silalahi alias Raja Bunga-bunga adalah keturunan Ruma Bolon, dari Ruma Sondi. Keturunan Raja Parmahan Silalahi kemudian berkembang di Huta Silalahi, Hinalang, Pagar Batu, Balige. Di negeri yang asing baginya, Raja Parmahan Silalahi sangat rindu akan orang tua dan keluarganya di Silalahi Nabolak. Tentulah Raja Parmahan mengira mengira bahwa ia telah dibawa jauh terpisah dengan orangtua maupun sanak keluarganya. Raja Parmahan Silalahi di Hinalang Balige kemudian menikah dan memiliki 4 (empat) anak yang masing-masing diberi nama Sihaloho, Sinabutar, Sinabang dan Sinagiro. Penamaan ini mirip dengan nama-nama keturunan Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak , sekaligus sebagai pengobat rasa rindu dan harapannya kelak , para keturunannya akan bisa bertemu kembali dengan sudara-saudaranya dari Silalahi Nabolak.

Dari dua kondisi diatas, beberapa individu mungkin tidak bisa menerima uraian seperti ini. Terutama beberapa keturunan Silalahi Toping maupun Pangururan yang tetap bersikeras dengan pemahan mereka.
Semua orang mengetahui bahwa tanah yang dimiliki oleh Raja Silahi Sabungan adalah (hanya) Silalahi Nabolak. Dari sinilah kemudian awal pelafalan SILALAHI sebagai panggilan bagi orang-orang yang berasal dari Silalahi Nabolak sampai kemudian berkembang sebagai marga.

Dalam konteks ULAON ( pesta ) adat, keturunan Raja Silahi Sabungan selalu ditegaskan dengan 8 (delapan) nama ( yairu keturunan Raja Silahi Sabungan ) yang menjadi sebutan dalam konteks PARJAMBARAN sebagai SI SADA ANAK NANG SI SADA BORU sesuai dengan Poda sagu-sagu Marlangan. Yang mana , seluruh keturunan Raja Silahi Sabungan menjungjung norma-norma PODA SAGU-SAGU MARLANGAN. Prinsip tidak nikah-menikahi diantara 8 keturunannya masih sangat terjagai sampai sekarang ini. Demikian halnya dalam perkumpulan POMPARAN RAJA SILAHI SABUNGAN dimanapaun berada, selalu berdasarkan kepada 8 (depalan) keturunan diatas.

Bukan maksud untuk menghilangkan keberadaan Silalahi Tolping ataupun Silalahi Pangururan sebagai bagian dari keturunan Raja Silahi Sabungan. Pada prisipnya, Keturunan Raja Silahi Sabungan ( khususnya di Silalahi Nabolak sampai saat ini ) tetap menginginkan supaya Silalahi Tolping / Pangururan masuk dalam 8 (depalan ) keturunan Raja Silahi Sabungan , sesuai dengan PODA SAGU-SAGU MARLANGAN dari Raja Silahi Sabungan.

BIUS TOLPING AMBARITA , SAMOSIR

Dari komposisi marga-marga yang secara sah mendiami tanah Tolping diketahui pula bahwa mereka adalah marga-marga pendahulu yang mendiami negeri tersebut. Itu sebabnya mereka disebut dengan SIPUKKA HUTA dalam satu BIUS. Kelompok BIUS adalah pemangku sah akan tanah-tanah di seluruh bius (negeri) tersebut. Dan ini bukam sembarang , karena pembentukan satu BIUS dilakukan dengan hati-hati dan terhormat.

Komposi marga-marga SUHUT di ranah [golat] TOLPING , negeri AMBARITA , Samosir, dikuasai oleh campuran berbagai marga, di antaranya :

Raja Bona ni Ari, dipangku marga Sihaloho
Raja Pande Nabolon, dipangku marga Silalahi
Raja Panuturi, dipangku marga Silalahi
Raja Panullang, dipangku marga Sigiro
Raja Bulangan, dipangku Marga Sidabutar (Nai Ambaton )
Raja Pangkombari, dipangku marga Siallagan

Asal mula marga Silalahi di Tolping diawali sejak keturunan Togu Raja Sihaloho dan keturunan Raja Partada dari Pangururan. Raja Partada ialah anak dari Debang Raja yang meninggalkan Silalahi Nabolak dan merantau ke Panguruan dan menamai dirinya Ompu Sinabang alias Ompu Lahisabungan. Sampai saat ini, makam / tambak Ompu Lahisabungan ada di Dolok Parmasan( tanah pebukitan khusus tempat pekuburan ) di Pangururan , Samosir. Keturunan Raja Partada kemudian memakai Silalahi.

BIUS PANGURURAN , BIUS SITOLU HAE

Demikian halnya di Pangururan. Kelompok BIUS di Pangururan Samosir, keberadaan marga Silalahi termasuk dalam kategori marga pendatang. Hal ini terlihat jelas dari posisi marga Silalahi sebagai Raja Boru diantara marga Raja Tanah (Partano Golat) atau marga Suhut ni huta di negeri Bius Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo , yaitu :

Marga Naibaho
Marga Sitanggang
Marga Simbolon

Dari marga tanah ( suhut ni huta ) inilah kemudian terbentuk Raja Partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang menjadi bagian marga Suhut ni huta , misalnya :
Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho Siahaan, Hutaparik, Sitangkaran, Sidauruk, dan Siagian.
Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat.
Dari Marga simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon, Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

Fakta hubungan sosial marga Silalahi dengan marga Simbolon di Bius Pangururan juga mempo isikan rendahnya tingkat marga Silalahi di Bius Pangururan, hal ini karena marga Silalahi adalah pendatang di Bius Pangururan da kemudian menjadi Boru dari Simbolontuan saja, ini artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan kekerabatan (tutur) Boru kepada marga Silalahi di Pangururan.

Jelaslah sudah , bahwa Raja Silahi Sabungan memang tidak pernah berdiam atau tinggal di Pangururan Samosir atau di Tolping Ambarita. Keberadaan marga Silalahi di kedua negeri ini adalah keturunan Raja Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak.

Horas Jala Gabe.