HORJA BIUS

BIUS SILAHI SABUNGAN

 

By. Hoga Sipayung © Januari 2009

http://hogasipayung.blogspot.com

Dalam kultur masyarakat Batak dahulu mengenal suatu perhelatan akbar yang disebut HORJA BIUS. Dahulu kala, Horja bius merupakan hukum adat tertinggi dalam persekutuan masyarakat Batak (yang nota bene terdiri atas beberapa marga) dalam suatu wilayah / huta. Disemua bagian tanah Batak yang didiami keturunan/marga tertentu pastilah memiliki suatu Bius sebagai pengukuhan teritori yang syah bagi generasi mereka yang akan datang kelak.

 

Pimpinan tertinggi dari bius ini adalah Raja Bius yang berasal dari Raja Marga Sipungka Huta. Yang dimaksud Raja Marga Sipungka Huta (Raja Bius) adalah golongan marga perintis ( yang kemudian diakui bersama sebagai “Penguasa” wilayah tersebut ) yang mendiami sekaligus pengukuhan kepemilikan wilayah / huta tersebut bagi marga-marga pendatang. Bius sangat dihormati sebagai hukum dan ikatan “kesatuan” antara marga-marga Sipungka Huta dengan marga-marga pendatang di wilayah / huta itu.

Kegiatan ini disebut Horja Bius. Horja Bius hanya dapat dilakukan oleh Marga Sipungka Huta. Di Pangunguran (Samosir) misalnya, dikenal bius Sitolu Hae. Disebut Sitolu Hae karena di wilayah ini terdiri dari 3 (tiga) marga Sipungka huta, yaitu marga Naibaho keturunan Sirajaoloan, marga Simbolon keturunan Simbolontua dan Sitanggang keturunan Muntetua.

Naibaho terdiri atas marga-marga Siahaan, Sitangkaraek, Sidauruk, Sihutaparik dan Siagian. Simbolon terdiri atas marga-marga Nadeak, Tamba, Simbolon dan Silalahi ( sebagai Boru). Sitanggang terdiri atas marga Sitanggang, Sigalinging, Raja Pangadat dan Malau ( sebagai Boru ). Artinya, marga Silalahi dan marga Malau adalah sebagai pendatang yang dikukuhkan marga Sipungka huta mendiami wilayah / huta Pangunguran.

Demikian halnya dengan Silahi Sabungnan di huta Silalahi , Paka-Dairi. Bius Silahisabungan berada di Silalahi Nabolak, yang disebut Bius Parsanggaran yang terbagi atas 3 (tiga) turpuk yakni :

(1) Bius Siopat Turpuk ( Sihaloho, Rumasondi, Sidabariba, Pintubatu)

(2) Bius Sitolu Tupuk ( Situngkir, Sinabutar, Sidebang)

(3) Bius Tambun.

 

Dengan kata lain, pengukuhan ini adalah untuk mengukuhkan bahwa marga-marga diatas adalah pemilik tanah waris dari leluhur mereka Silahi Sabungan.

Catatan:

Keturunan Silahisabungan ( marga Silalahi ) yang ada di Samosir (Pangunguran, Parbaba, Tolping, Sibisa ) adalah sebagai marga pendatang. Faktanya, marga Silalahi bukan sebagai Sipungka Huta, artinya marga Silalahi tidak memiliki kapasitas menjadi Raja Bius.
( Sumber : Buku, Sejarah Raja Silahisabungan , oleh. J.Sihaloho ; Artikel, Bius , oleh. A. Alden Sihaloho )

Demikian halnya dengan Bius Tolping yang terdapat di negeri Ambarita-Samosir adalah campuran berbagai marga, di antaranya :
1. Raja Bona ni Ari, dipangku marga Sihaloho
2. Raja Pande Nabolon, dipangku marga Silalahi
3. Raja Panuturi, dipangku marga Silalahi
4. Raja Panullang, dipangku marga Sigiro
5. Raja Bulangan, dipangku Marga Sidabutar (Nai Ambaton)
6. Raja Pangkombari, dipangku marga Siallagan

Kampung (huta) di bius Tolping masih minim dibandingkan dengan Bius lain di pulau Samosir. Dan yang paling penting untuk diperhatikan adalah “tidak ada” istilah marga atau nama Silalahi Raja di Bius Tolping ( Samosir ). Kampung yang terdapat di Tolping adalah:
1. Lumban Sihaloho
2. Lumban Sigiro
3. Lumban Parnomangan
4. Lumban Sidabutar
5. Lumban Silalahi
6. Lumban Dolok
7. Lumban Barat
8. Lumban Rihit
9. Lumban Siallagan
10. Lumban Siadang Aek
11. Lumban Parhorasan
12. Lumban Sinaborno
13. Lumban Tonga–tonga
14. Lumban Tinggi
15. Huta Tolping-tolping
16. Huta Siarsam Sada
17. Huta Siarsam Dua
18. Huta Siarsam Tolu
19. Lumban Batu
20. Sosor Galung
MARGA SILALAHI DI BIUS PANGURURAN
Kedudukan marga Silalahi ( bukan Silahi Sabungan ) di Bius Pangururan adalah rendah, hal ini adalah fakta bahwa marga Silalahi ( keturunan Silahi Sabungan ) hanyalah marga pendatang di Pangururan.Dan sekali lagi untuk diperhatikan , “tidak ada” istilah marga atau nama Silalahi Raja di bius Pangururan.
Marga Tanah (Partano Golat) di Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo adalah :
1. Marga Naibaho
2. Marga Sitanggang
3. Marga Simbolon
Dari marga tanah ini terbentuk Raja partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang masuk marga tanah, misalnya :

1. Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho Siahaan, Hutaparik, Sitangkaraen, Sidauruk, dan Siagian.
2. Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat.
3. Dari Marga Simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon, Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

Hubungan kekerabatan marga Silalahi dengan marga Simbolon masih rendah tingkatnya karena marga Silalahi adalah Boru Natuatua dari Simboluntuan , dan satu lagi : “ tidak semua marga Simbolon “margelleng “(marboru) atau bahkan memiliki hubungan kekerabatan kepada marga Silalahi “ di Pangururan , Samosir.

Dolok Parmasan.

Pada umumnya setiap bius memiliki dolok Parmasan. Dolok Parmasan. Disebut juga tano Parholian (tempat penyimpanan tulang-belulang leluhur) atau tempat pemakaman kembali tulang belulang nenek moyang sesuatu marga yang ada di bius itu. Di Dolok Parmasan Pangururan terdapat kurang lebih 30 (tiga puluh) makam (tambak), salah satunya makam (tambak) nenek moyang marga Silalahi yang ada di Bius Pangururan. Marga Silalahi ( bukan Silalahi Raja ).

Footnote Penulis :

Tulisan ini memang disadur dari berbagai sumber. Tetapi yang jelas semua ini masih minim fakta tertulis (manuscift) sebagaimana halnya Tarombo Toba, hanya verbalism atau turi-turian (cerita rakyat). Fakta ini sebagai realita serta pengakuan masyarakat umum yang berlaku dan dapat digali saat ini, khususnya bagi kita keturunan Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak, Pakpak Dairi.

Sejak 1967, ketika gagasan akan dimulainya pembangunan Tugu Silahi Sabungan di bona pasogit Silalahi Nabolak, Pak pak-Dairi, kelompok marga Silalahi dari Tolping, Pangururan,Ambarita menyatakan bahwa mereka adalah keturunan tertua Silahi Sabungan yang diperkuat dengan tarombo Parna. Sejak saat itu pula menentang pembuatan Tugu Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak dan sejak itu mereka eksis pula mencoba mengangkat marga Silalahi Raja ( untuk membedakan kelompok mereka dengan marga Silalahi dari keturunan Silalahi Nabolak) , sebagai keturunan Silahiraja, putra Silahi Sabungan dengan putri Simbolontuan di Pangururan Samosir. Tetapi sekali lagi, ini adalah menurut versi mereka. Lebih jauh, marga Silalahi Raja mengklaim bahwa Raja Parmahan di Hinalang Balige merupakan keturunan marga Silalahi Raja dari Pangururan.

Bersyukur dengan hadirnya Hulahula Silahi Sabungan , marga Manurung dari Sibisa dan Padangbatangari dari Dairi , yang akhirnya mengesahkan peresmian berdirinya Makam & Tugu Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, Pakpak-Dairi. Karena memang tanpa kehadiran mereka, maka Tugu itu mungkin belum ada sampai saat ini. Belakangan ( 2008 ) telah diresmikan pula : Makam dan Tugu Raja Parmahan “Silalahi” keturunan Sondiraja dari Silalahi Nabolak di Hinalang Balige. Artinya, semakin jelas kebenaran fakta Raja Parmahan sebagai keturunan Silahi Sabungan melalui Sondiraja dari Silalahi Nabolak.

Keturunan Silahi Sabungan dari Silalahi Nabolak tetap eksis berdiri dengan tarombo dan silsilan yang telah turun temurun terjaga dan diwarisi oleh keturunannya. Fakta diatas adalah pencerahan bagi kita keturunan Silahi Sabungan dewasa ini, bahwa Poda Sagu marlagan adalah petuah bagi kita keturunan Silahi Sabungan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat sebagai sesama, kita yang memiliki marga Silalahi keturunan dari Silahi Nabolak jangan pernah ragu memamaki marga Silalahi, karena kita masih mengetahui asal turpuk kita yang sesungguhnya.

Diluar sana mungkin perdebatan sangat panas dan bahkan menyakitkan, tapi yang jelas semua itu tidak perlu untuk dibesar-besarkan, apalagi untuk berbantah-bantahan. Gondang kita aja kita tor-tori. Beda kalau gondang kita ditor-tori orang lain, bukan masalah, yang jelas kita tidak ingin di rusuhi. Kita sendiri harus lebih tau dan mengenal diri kita sendiri. ( ada pencerahan ??). Mauliate godang.